Penulis cerpen ini : J
[Through Music]
*nama band, lagu serta apapun yang ada dalam fanfic ini hanya karangan saja*
Kakashi menyulut rokok yang sudah menempel dicelah bibirnya. Asap ditiupkan bersamaan dengan hembusan nafas.
"Cuaca di Tokyo cepat berubah, kemarin sangat dingin dan sekarang panasnya ganas. Haaachih―" Naruto mengambil bir kaleng dari kulkas.
"Kenapa kamu malah bersin?" Sasuke duduk di kursi meja makan, meneguk air putih dingin untuk menghilangkan rasa haus akibat suhu meninggi bulan Agustus ini
Menggaruk hidung, Naruto berkata "Tubuhku bereaksi pada perubahan cuaca yang tak tentu. Bisa-bisa Jepang akan mengungguli mesir kalau derajatnya segerah ini"
Glek glek glek, minuman kaleng diteguk sangat cepat olehnya
"Hari ini kalian istirahat saja. Mulai besok sampai seminggu selanjutnya banyak jadwal perfomance yang harus kalian lakukan" Kata Kakashi. Kuntung rokok sudah menjadi abu, dia mengambil beberapa batang rokok lagi dari dalam saku jeans nya
"Aku dengar ada band baru yang single albumnya tiba-tiba meledak di pasaran. Ino memberitahu berita ini setengah-setengah, ha― dia sekarang entah berada dimana. Dia adalah paparazzi andalan kita" Sakura adalah personil yang mengambil peran gitaris di grup band terpopuler di tahun ini.
"Bukannya banyak juga pesaing lain yang mencoba mencuri top chart musik kita? Lagipula sekali lagu kita nge-hits di kalangan masyarakat, lagu dari grup lain tak akan bisa menduduki chart pertama." Naruto membalas kalimat Sakura dengan nada merendahkan
"Ino-pig bilang band satu ini berbeda, kita tidak bisa menyombongkan diri percaya kalau kita akan selalu berada di atas. Aku harus mencari lebih banyak lagi sumber tentang band itu"
"Kau terlalu khawatir, Sakura. Benar apa perkataan Naruto tadi. Fokuslah pada latihan untuk besok" Sasuke membuka lembaran majalah yang berisi trend terkini untuk pakaiannya
Sevens merupakan nama band mereka, beranggotakan 4 personil. Pertama adalah Naruto di posisi gitar dan vokal dua, lalu Sakura yang sudah aku jelaskan di awal, ketiga Sai memegang drum dan yang terakhir yaitu Sasuke bertugas memainkan bass serta vokalis utama. Nama ini diambil dari kelompok tujuh yang saat Sekolah Menengah Atas dulu diberikan pada Kakashi untuk mengumpulkan satu tim jenius yang akan dididik olehnya. Bakat masing-masing semakin menonjol setelah Kakashi mendaftarkan satu kelompoknya ke label musik ternama, memenuhi persyaratan awal membuat satu lagu kompilasi ciptaannya sendiri. Produser menyukai jenis musik mereka yang bergenre Japan pop namun ada sedikit campuran Rock dalam beberapa lagunya.
..
"Moshi moshi~"
Di tengah obrolan, ponsel pria bertanda merah di kedua pipinya berdering. Dia mengangkat panggilan itu dan mundur beberapa langkah dari teman-temannya
"Oh, Shizune-chan" .. "Tidak kok, aku sedang tidak sibuk" .. "Di tottori? Neh~ aku sedang berada di kota Tokyo" .. "Mungkin aku harus menaiki taksi untuk pergi ke sana, mobilku sedang di service di bengkel karena kemarin mogok" .. "Yakin nih? Haha.. baiklah aku akan datang segera kesana. Jaa"
Tut
Layar handphone sudah dilipat kembali. Obrolan singkat dan padat antara dia dan seseorang terdengar jelas oleh Hinata dari ruang tamu
Kiba terlihat mengambil tas gitar listriknya dan menuju pintu utama dalam rumah.
"Mau kemana, Kiba-kun?" Tanya Hinata. Dia merasa penasaran dengan pembicaraan tadi yang tak sengaja dikuping
"Klien memintaku untuk menemaninya di hotel" jawab Kiba.
"Selarut ini kamu berani pergi sendiri tanpa menutup identitas? Kiba, band kita baru saja mendapatkan reaksi baik dari para pecinta musik. Jika kamu melakukan hal yang mencoreng citra band kita, maka kamu―"
Hinata menarik tubuh Temari yang mulai terlihat marah "Kiba-kun masih berumur 19 tahun, dia paling muda dalam band. Biarkan saja dia bebas untuk saat ini karena dia baru saja kabur dari rumahnya dan memutuskan hubungan keluarga dengan ayah dan ibunya" Berbisik pelan pada Temari
"Kata siapa kalau dia kabur dari rumah?" Alis kiri menaik, wanita berambut ikat empat ini terlihat kaget
"Dia sendiri kok yang bilang. Sudahlah, aku manager disini jadi aku akan berusaha semampuku untuk menjaga kita dari isu-isu buruk" Hinata menepuk bahu Temari beberapa kali lalu menoleh ke arah Kiba "Pergilah, aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang penting" Ucap Hinata sambil tersenyum
"Matte, apa yang kamu katakan.." Temari tidak setuju dengan pendapat Hinata
"Manager sangat baik. Temari kau harus berguru padanya, jangan terlalu keras pada anak remaja sepertiku. Bye bye Hinata-san. Muach" Pria kekanak-kanakan itu melempar satu ciuman jarak jauh ke arah Hinata. Tubuhnya menghilang setelah pintu apartemen tertutup.
"Dia tidak pernah kabur dari rumah, lebih tepatnya diusir. Jangan memanjakan anggota didikanmu, Hinata. Walaupun kamu seumuran dengan Kiba, aku tetap menghormati kedudukanmu" Temari melentangkan tubuhnya ke ranjang. Minggu malam tanpa Shikamaru, di kamar itu hanya tersisa Hinata dan dia sendiri
"Benarkah? Jadi itu berarti Kiba sudah mengatakan hal bohong padaku?"
"Seperti yang aku kira.."
***
Lautan manusia hampir seperempat dari wilayah Tokyo kini berkumpul dalam satu studio musik megah. Rela mengantri berjam-jam serta harga tiket masuk yang hanya bisa dibeli dari kalangan menengah ke atas membuat mereka merasa senang bisa melihat secara langsung idola mereka di panggung.
"Hey, dimana Sai?" Dikaitkan strap bass ke bahunya. Acara akan segera di mulai beberapa menit lagi, masih di backstage personil Sevens mempersiapkan alat musik masing-masing.
"Aku sudah mencoba untuk menelponnya namun tak ada jawaban. Anak itu selalu berbuat masalah disaat genting kayak gini" Sakura panik. Tombol-tombol handphone nya hampir copot karena terlalu keras di tekan
Brakk.
"Gomen gomen~ aku belum telat kan?" Suara tak asing terdengar. Dialah sang Drummer, pria berkulit putih pucat ini baru saja datang dengan hembusan nafas memburu. Pintu ruangan make-up di buka sangat keras oleh Sai
"Ambil ini!" Naruto melempar dua stick drum
"Arigatou.." Sai menangkapnya dengan tangan kanan.
"Yosh, lakukan yang terbaik." Keempat orang itu ditambah Kakashi menyatukan telapak tangan "Sevens YES!"
"Ganbarimasu, Sasuke-kun" Sakura tersenyum pada leader di band nya, Sasuke
Tanpa membalas senyuman hangat dari wanita satu-satunya disana, Sasuke berjalan kukuh diatas lantai panggung disusul anggota lain di belakangnya.
Pencahayaan, microphone sudah siap.
"Konbawa minaaaaa.. Are you ready?!" Sasuke menyapa para fans yang diberi nama panggilan '7-Ri'
Kyaaaaa~~~ sorakan kencang menambah semangat. Lagu pertama yang dibawakan berjudul Paradise Kiss ciptaan Kakashi berisi tentang semua fantasi dalam pikirannya, terinspirasi dari buku icha-icha karangan Jiraiya.
Di barisan paling depan tampak seorang gadis berponi rata menggoyangkan tubuhnya ke kiri-ke kanan sesuai dengan irama musik slow nan romantis itu. Mata lavender tanpa pupil hitam bercahaya, menatap lurus ke arah salah satu anggota band Sevens.
"Naruto-kun~" Nama itu yang dia ucapkan beberapa kali sepanjang sesi menonton penampilan band. Hinata mulai menyukai pria blonde ini setelah dia berpapasan langsung di sebuah kafe tempat dia mendapatkan banyak inspirasi untuk lirik-lirik lagunya.
Suara sang Vokalis yang sangat merdu dan menjiwai makna dari setiap kalimat dalam lagunya membuat Hinata terpana, melamun, membayangkan suatu saat nanti dia bisa menjadi teman dekat Naruto. Tiba di lagu cinta bertema "Unrequited Love" air mata tahu-tahu mengalir begitu saja di wajahnya.
"A-aku paling suka lagu ini.." Hinata mengambil sapu tangan dan mengusap kulit wajahnya yang kini basah. Hinata sadar bahwa rasa kagum dalam dirinya sudah bukan dalam daerah menyukai antar fans-bintang saja namun dia sudah jatuh cinta.
"Bisakah aku berada satu panggung denganmu? Aku ingin membuatkan sebuah lagu untukmu, Naruto-kun"
Sisi lain dalam hatinya dia ingin bersama dengan Naruto namun kenyataannya dia adalah anggota Sevens, band saingan terberat.
Beberapa bulan yang lalu..
"Maaf, kami sedang tidak mencari seorang composer musik di perusahaan kami" Tsunade, manager dari TV Music yang di kunjungi oleh Hinata, menolak lamarannya.
Band Re: dibuat oleh Hinata dan teman-teman lain awalanya karena mereka menikmati musik. Hinata bukanlah anggota pemain alat musik di dalam band, dia lebih nyaman menjadi seorang penulis lagu dan menyusun aransemen lagunya sendiri.
"Sugoi, bakat ini tak boleh disia-siakan. Hinata, kamu cocok bekerja di perusahaan musik!" Kiba mengambil lembaran kertas yang tergeletak bebas di atas meja belajar Hinata. Sebelum kelulusan SMA, Hinata sering menulis beberapa lagu seperti curahan hatinya. Meminta Temari, Kiba, Neji dan Shikamaru untuk menyanyikan single itu meskipun baru bisa menampilkannya di panggung kafe atau undangan sekolah.
"Apa kamu serius mengambil jalan ini?" Tanya Neji
Di kuliah semester pertama, kelima orang ini masuk ke Universitas Kyoto secara bersamaan, memilih satu jurusan yang persis pula.
"Aku punya rekaman saat Neji-nii dan yang lainnya menyanyikan lagu ku. Dengan mengirimkan CD ini ke produser, aku harap kalian bisa menjadi band besar. Mohon bantu aku, minna!" Hinata merundukkan punggung, meminta dengan kuat hati
Shikamaru menggaruk belakang kepalanya "Aku tidak suka ketenaran tapi karena kamu sudah memohon seperti itu, mau bagaimana lagi"
"Benar. Hinata kalau sudah mengambil pilihan tidak akan pernah dia menarik ucapannya kembali. Aku akan berusaha bersamamu" Temari menambahkan
Neji hanya mengedikkan bahu, "Hnn"
Hinata tahu sahabatnya akan mendukungnya. Dorongan semangat membara, semakin meneguhkan hati wanita Hyuuga ini.
...
"Ini tidak mungkin!" Sakura melempar tablet miliknya ke arah sofa
"Tidak bisa di prediksi, lagu kita terkalahkan setelah 6 bulan tetap berada di posisi teratas" Sai mengambil tablet Sakura, melihat hot news yang menuliskan sebuah kabar tentang band yang beberapa minggu lalu mereka bicarakan
"Aku ingin mendengar lagu mereka" Sasuke mengangkat telapak tangan, meminta iPod yang sedang di pakai oleh Naruto
"Ini.. aku penasaran dengan pengarang lagunya" Naruto memberikan alat pemutar musik itu pada Sasuke
Earphone dipakaikan ke kedua telinga, lagu kembali diputar ke awal menit.
"Apa yang harus kita lakukan? aku diberitahu sebagian fans fanatik kita berpindah menjadi penggemar band gadungan itu" Sakura mengoceh terus menerus
"Diamlah, aku juga sedang berpikir" Timpal Sasuke, sangat ketus.
Tiga lagu baru dari band Re: diputar beberapa kali oleh Sasuke. Dia merasakan ada tarikan magis setelah mendengarnya sekali.
"Hn.." speaker ear putih yang tadi dia pakai sekarang dilepas, melanjutkan berkata "Aku yakin composer band ini lah yang berperan banyak, kita harus merekrut dia menjadi pengarang lagu untuk kita"
"Tapi, aku kan yang sering menulis lagu untuk band Sevens" Sakura protes. Ujaran Sasuke tadi berkesan bahwa dia sudah tidak akan 'digunakan lagi'
"Ide yang bagus. kita hanya perlu mendatangi label musik mereka, memberi satu kontrak dan dia akan menjadi tambang emas" Sai mengangguk setuju dengan Sasuke
"Sakura-chan, ini demi kebaikan masa depan band Sevens.." Naruto sedikit mengeluarkan jurus penggoda untuk merayu wanitanya
"Jadi kamu ikut setuju pada usul dua pria ini?! NARUTOOO..." Sakura siap mengumpulkan tenaga di telapak tangan kanannya
"Jangan egois. Kamu terlihat yang paling panik mendengar kemerosotan band Sevens, harusnya kamu yang paling menyetujui!" Sasuke menyentaknya. Wanita bermata hazel itu menyerah dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi hari itu juga
Sai meminta Ino untuk menghubungi Temari, dia dulu berteman dekat di kuliah. Ino adalah seorang gadis yang mengenal banyak orang, tipe sosialita.
Ide untuk memaksa target secara langsung di perusahaannya akan berpotensi besar untuk ditolak. Sasuke memikirkan strateginya dengan baik.
Kurang, tambah, bagi lalu dijadikan persen hasilnya akan tetap NOL besar.
"Neji memang hebat bermain mahjong" Kiba mengaku kalah setelah sederet Tile dibuka oleh lawannya
*tile : batu ukiran dalam permainan mahjong
"Berhenti sajalah kalau kamu tidak ahli" Ejek Naruto
Sakura tidak ikut berkumpul, dia cemburu keberadaannya di hadapan Sasuke sudah menghilang. Meskipun tak ada jalinan hubungan diantara dia dan Sasuke, dia masih terus berharap sang Vokalis akan melihatnya suatu hari ini sebagai orang spesial.
"Thanks, God.." Hinata pun sama, dia hanya menonton permainan di belakang.
Minggu siang Temari mengatakan bahwa band terkenal akan berkunjung ke apartemen mereka. Hinata bertanya-tanya band mana yang mau bertemu dengannya. Tak butuh waktu lama, bel berbunyi menandakan tamu sudah datang. Hinata membuka pintu perlahan, mengambil nafas panjang lalu matanya membulat penuh. Yang datang adalah Sevens band! Ada si pirang juga disana.
'Mimpi apa aku semalam? Hari ini tanpa ada jarak diantara aku dan Naruto tiba juga, aku bisa melihatnya dengan jelas disamping tubuhku sendiri, melihat tawa candanya yang menyejukkan jiwa' Hinata terbang dalam angan-angan
Satu tangan menjulur di samping tubuh Hinata "Oishiii.. Tomat nya tidak asam dan tidak terlalu manis. Darimana kamu mendapatkan ini?"
Hinata sadar setelah mendengar suara berintonasi tinggi itu membangunkan mimpinya "Ah.. aku menanamnya sendiri di kebun. Masih banyak loh, musim panas kali ini membuat semua tanamanku subur melimpah" Hinata memang sibuk menyiapkan makanan saja di dapur. Dia tidak menyadari pria berambut raven ini mencuri potongan tomatnya
"Boleh aku minta? aku suka tomat" Ujar Sasuke
"Tentu. Aku akan memetik beberapa buah lain juga untuk Itachi-kun bawa pulang" Hinata membuka celemek yang menempel di tubuhnya
"Itachi?"
"Eh.." Sejak pertama kali bertemu keduanya belum saling tegur sapa atau memperkenalkan diri. Tapi mungkin Sasuke sudah hafal lebih dulu tentang nama wanita pengarang lagu itu "Ka-kamu Itachi kan? aku salah satu fans novel yang kamu buat"
Sasuke tertawa "Hahaha.. aku ini penyanyi bukan penulis novel. Jadi sejak tadi kamu mengira bahwa aku adalah Nii-chan"
Hinata tahu band Sevens tapi dia hanya mengenal nama Naruto saja.
"Maaf, aku tidak tahu banyak. Maaf banget" Hinata malu, wajahnya memerah karena dia terlihat seperti orang linglung di depan Sasuke
"Tidak masalah. Kamu lucu" Sasuke masih terus memakan irisan tomat yang dimasukkan ke dalam tumpukan roti seperti sandwich
"Kiba, kau mau kemana?" Tanya Shikamaru
Kiba menyaut sambil memakai sepatunya "Biasa, orderan" Jawabnya
Personil anggota Re: mengerti dengan kata orderan yang merujuk pada sesuatu. Kiba sering mendapatkan panggilan wanita untuk tidur dengannya, dengan bayaran yang cukup mencengangkan
Satu per satu orang di ruangan itu pulang. Shikamaru beralasan akan mengantar Temari pulang karena dia sudah mabuk berat. Neji harus menyelesaikan tugas skripsi kuliahnya untuk dilaporkan besok pada dosen. Sai paling awal pulang, dia ditagih oleh Ino pergi makan malam. Yang tersisa hanya 4 orang di apartemen mewah itu.
'DON'T DISTURB'
'Sejak kapan kertas bertuliskan kalimat itu menempel di pintu kayu kamar tamu?'
Hinata takut untuk mengetuj pintu kamar satunya, dia tidak ikut mabuk seperti personil Sevens. Terpaksa malam itu mereka menghabiskan waktu untuk menginap sementara di apartemen Hinata. Ya ampun baru juga kenal udah bertingkah seenaknya :|
Sasuke terlihat lemas, dia ikut minum-minum bersama Naruto dan Sakura. Ada sedikit rasa sakit di hati Hinata, mengetahui bahwa pujaan hatinya sudah memiliki pacar dan sampai tidur di kamar yang sama.
"Sasuke-kun, apa Naruto dan Sakura sedang menjalin hubungan?" Hinata membereskan botol-botol bir, berserakan di lantai.
"Mereka sudah tunangan, guk. Tapi Sakura mencintaiku, hah dia tipe wanita tidak berguna guk" Sasuke menjawab pertanyaan dari Hinata sambil cegukan
"Aku menyukainya sejak band Sevens muncul.." Hinata duduk disamping tubuh Sasuke, berniat menceritakan semua isi hati dan kekecewaan karena Naruto tidak bisa menjadi miliknya.
"Oh.." Sasuke mungkin tak bisa menangkap kalimat dari Hinata
Dengan keadaan tertidur seperti ini, wajah Sasuke sangat amat mirip dengan Itachi. Hinata mengumpulkan puluhan novel karangannya karena kisah cinta menyentuh hati setiap kali dibaca.
***
Dulu kedua band ini adalah saingan, tapi sekarang berteman hangat. Dalam satu acara Live di televisi, mereka saling memuji satu sama lain. Gosip beredar Sevens dan Re: memiliki dendam pribadi karena kemunculan band Re: yang mengalahkan lagu hits Sevens.
~Ruangan Khusus Personil Sevens~
"Naruto, kamu belum beres-beres pulang? acara sudah selesai. Sasuke dan Sai pergi duluan karena mereka akan mencari barang dulu" Sakura memasuki ruangan yang tidak terkunci.
Naruto duduk bersandar di sofa merah sambil meminum sake instan kalengan. "Sakura, aku ingin bertanya sesuatu.."
Sakura beranjak mendekatinya "Jarang-jarang kamu terlihat serius seperti ini" tas gitar yang digendongnya ditaruh ke sisi kursi
"Kamu sudah siap untuk menikah denganku?" Bukan karena efek mabuk dia berbicara hal ini. Naruto masih menunggu Sakura di ruangan itu untuk membicarakannya
"Apa kamu mabuk?" Tanya Sakura, keheranan
"Tidak" Dia memeluk Sakura, menindihnya tidur terlentang di atas sofa besar disana.
"Jangan dilakukan disini, nanti kalau ada bagian staff yang tahu kita berdua akan―"
"Sttt.. di luar pintu sudah tertulis jelas, mereka tidak akan berani masuk ke sini" Naruto membuka resleting baju wanitanya
"Aku bersedia menikah denganmu" Sakura mengambil kepala Naruto untuk mendekatkan wajah mereka
***
"Hn, Sai.. cincin yang kamu berikan pada Ino kemarin itu beli dari toko mana?" Di dalam mobil Sasuke menyetir, dan Sai duduk disampingnya
"Memangnya kenapa?" Sai balik bertanya
"Aku akan melamar Hinata"
"Mendadak sekali, bukankah kalian baru saja kenal? Kalian berdua bisa bersama sangat tidak mungkin" Sai mengetahui sifat playboy temannya itu, dia belum percaya pada apa yang baru saja di dengarnya
"Dia sudah mengandung janinku. Katakan saja dimana toko perhiasan itu, aku tidak bertanya tentang komentarmu"
"Jadi kalian sudah pernah ehem? Kapan? Oh tidaaakkk!!!" Dengan ekspresi lebay, drummer zombie ini berteriak
Malam disaat Sasuke, Naruto dan Sakura menginap di rumah Hinata karena mabuk, Hinata membiarkan Sasuke tidur di ruang tamu dan diberi selimut.
Namun pintu kamar Hinata yang lupa dikunci, dibobol Sasuke. Dia mencari tempat empuk seperti spring bed di kamarnya.
"Kasurku~" Sasuke berdiri memandang gadis di kamar itu. Hinata terlelap pulas, dia tidak terusik dengan kedatangan makhluk tak diundang ke hadapannya
Dalam keadaan sadar, Sasuke terpikat pada dua buah dada yang cukup besar menonjol dibalik piyama satin milik Hinata. Dia naik ke kasur dan mulai menaikkan rok dari bawah ke atas.
Belum juga bangun, Sasuke semakin jauh berbuat iseng melucuti pakaian gadis indigo itu. Dia sudah telanjang bulat, dan Sasuke mulai memainkan gunung kembar.
"Geli.." Hinata bisa merasakannya sekarang, saat membuka mata dia kaget "Sasuke-kun kamu sedang apa disini?"
"Hinata, kamu sangat cantik.. ayo kita bermain sebentar" Sasuke mencopot celana jeansnya, dia membekam mulut Hinata dengan telapak tangan kanan
"Hemmpp.." Hinata berusaha melawan.
Ciuman spontan meluluhkannya, dia sudah kalah oleh Sasuke dan terjadilah sesuatu yang tak pernah diharapkan.
Sasuke lupa tidak memakai benda pengaman saat melakukannya, karena memang mendadak jadi mau bagaimana lagi. Hinata pun tidak pernah bercerita pada Temari, dia membiarkan semuanya berlalu dan ingin melupakannya.
Sampai beberapa bulan Sasuke menghilang, Hinata tahu bahwa dia hamil. Oleh siapa lagi kalau bukan pria berambut pantat ayam itu. Bercerita panjang lebar pada semua anggota band Re: Neji mengamuk lalu mengancam akan menyebarkan berita kelakuan brutal Sasuke pada media masa. Keluarga Uchiha dan Hyuuga sempat akan melakukan perang dunia ke 5 tapi Sasuke mengambil keputusan untuk menanggung apa yang sudah dia perbuat.
THE END
ya ampun sasuke sama hinata br kenal eh udh main aja thu tp aku senang sasuke mau bertanggung jawab
BalasHapus