Jumat, 10 Januari 2014

Please Don't

Disclaimer : Naruto (Masashi Kishimoto)
Penulis cerpen ini : J
Saat Itu Sasuke Dan Hinata Dihukum Karena Menyerang Raikage Dan Sasuke Dan Hinata Disuruh Meminta Maaf Oleh Tsunade "Sasuke Hinata Kalian Harus Meminta Maaf Kepada Raikage" Ucap Tsunade Dengan Tegas Dan Sasuke Menjawap "Siap Tsunade-Sama" Dan Sasuke Dan Hinata Pergi Ke Kumogakure Saat Diperjalanan Hinata Pingsan Karena Kelelahan Dan Sasuke Membawanya Kesebuah Gua Dan Hinata Masih Belum Bangun Lalu Sasuke Menyukai Gadis Itu Diapun Sempat Jahil Sasukepun Memegang Oppai Hinata Karena Hinata Belum Sadar Sasukepun Membuka Pakaian Gadis Itu Dan Sasuke Memasukan Si Junior Ke Lubang Hinata Dan Setelah Hinata Sadar Dia Tidak Mengetahui Hal Itu Dan Melanjutkan Perjalanan Setelah Sampai Di Kumogakure Hinata Dan Sasuke Meminta Maaf Kepada Raikage Raikage Memaafkannya Tetapi Raikage Bilang "Sebagai Hukumannya Kalian Harus Menginap Disini Semalaman" Kemudian Sasuke Dan Hinata Bilang "Baik Pak" lalu Sasuke Dan Hinata Menginap Di Satu Kamar Dan Kasur Yang Besar Tapi Untuk Dua Orang Setelah Hinata Tertidur Sasuke Melakukan Hal Yang Sama Seperti Yang Kemarin Dan Hinata Terbangun Dia Bilang "Apa Yang Kamu Lakukan Sasuke-kun" Sasukepun Menjawab "stt... Jangan Berisik Aku Ingin Bermain Denganmu Sebentar" Sasukepun Membuka Celana Jeansnya

                  -Bersambung-

NaruSaku SasuHina "Through Music" Rated M Fanfiction Indonesia

Disclaimer : Naruto (Masashi Kishimoto)
Penulis cerpen ini : J
[Through Music]
*nama band, lagu serta apapun yang ada dalam fanfic ini hanya karangan saja*

Kakashi menyulut rokok yang sudah menempel dicelah bibirnya. Asap ditiupkan bersamaan dengan hembusan nafas.

"Cuaca di Tokyo cepat berubah, kemarin sangat dingin dan sekarang panasnya ganas. Haaachih―" Naruto mengambil bir kaleng dari kulkas.

"Kenapa kamu malah bersin?" Sasuke duduk di kursi meja makan, meneguk air putih dingin untuk menghilangkan rasa haus akibat suhu meninggi bulan Agustus ini

Menggaruk hidung, Naruto berkata "Tubuhku bereaksi pada perubahan cuaca yang tak tentu. Bisa-bisa Jepang akan mengungguli mesir kalau derajatnya segerah ini"

Glek glek glek, minuman kaleng diteguk sangat cepat olehnya

"Hari ini kalian istirahat saja. Mulai besok sampai seminggu selanjutnya banyak jadwal perfomance yang harus kalian lakukan" Kata Kakashi. Kuntung rokok sudah menjadi abu, dia mengambil beberapa batang rokok lagi dari dalam saku jeans nya

"Aku dengar ada band baru yang single albumnya tiba-tiba meledak di pasaran. Ino memberitahu berita ini setengah-setengah, ha― dia sekarang entah berada dimana. Dia adalah paparazzi andalan kita" Sakura adalah personil yang mengambil peran gitaris di grup band terpopuler di tahun ini.

"Bukannya banyak juga pesaing lain yang mencoba mencuri top chart musik kita? Lagipula sekali lagu kita nge-hits di kalangan masyarakat, lagu dari grup lain tak akan bisa menduduki chart pertama." Naruto membalas kalimat Sakura dengan nada merendahkan

"Ino-pig bilang band satu ini berbeda, kita tidak bisa menyombongkan diri percaya kalau kita akan selalu berada di atas. Aku harus mencari lebih banyak lagi sumber tentang band itu"

"Kau terlalu khawatir, Sakura. Benar apa perkataan Naruto tadi. Fokuslah pada latihan untuk besok" Sasuke membuka lembaran majalah yang berisi trend terkini untuk pakaiannya

Sevens merupakan nama band mereka, beranggotakan 4 personil. Pertama adalah Naruto di posisi gitar dan vokal dua, lalu Sakura yang sudah aku jelaskan di awal, ketiga Sai memegang drum dan yang terakhir yaitu Sasuke bertugas memainkan bass serta vokalis utama. Nama ini diambil dari kelompok tujuh yang saat Sekolah Menengah Atas dulu diberikan pada Kakashi untuk mengumpulkan satu tim jenius yang akan dididik olehnya. Bakat masing-masing semakin menonjol setelah Kakashi mendaftarkan satu kelompoknya ke label musik ternama, memenuhi persyaratan awal membuat satu lagu kompilasi ciptaannya sendiri. Produser menyukai jenis musik mereka yang bergenre Japan pop namun ada sedikit campuran Rock dalam beberapa lagunya.

..
"Moshi moshi~"

Di tengah obrolan, ponsel pria bertanda merah di kedua pipinya berdering. Dia mengangkat panggilan itu dan mundur beberapa langkah dari teman-temannya

"Oh, Shizune-chan" .. "Tidak kok, aku sedang tidak sibuk" .. "Di tottori? Neh~ aku sedang berada di kota Tokyo" .. "Mungkin aku harus menaiki taksi untuk pergi ke sana, mobilku sedang di service di bengkel karena kemarin mogok" .. "Yakin nih? Haha.. baiklah aku akan datang segera kesana. Jaa"

Tut

Layar handphone sudah dilipat kembali. Obrolan singkat dan padat antara dia dan seseorang terdengar jelas oleh Hinata dari ruang tamu

Kiba terlihat mengambil tas gitar listriknya dan menuju pintu utama dalam rumah.

"Mau kemana, Kiba-kun?" Tanya Hinata. Dia merasa penasaran dengan pembicaraan tadi yang tak sengaja dikuping

"Klien memintaku untuk menemaninya di hotel" jawab Kiba.

"Selarut ini kamu berani pergi sendiri tanpa menutup identitas? Kiba, band kita baru saja mendapatkan reaksi baik dari para pecinta musik. Jika kamu melakukan hal yang mencoreng citra band kita, maka kamu―"

Hinata menarik tubuh Temari yang mulai terlihat marah "Kiba-kun masih berumur 19 tahun, dia paling muda dalam band. Biarkan saja dia bebas untuk saat ini karena dia baru saja kabur dari rumahnya dan memutuskan hubungan keluarga dengan ayah dan ibunya" Berbisik pelan pada Temari

"Kata siapa kalau dia kabur dari rumah?" Alis kiri menaik, wanita berambut ikat empat ini terlihat kaget

"Dia sendiri kok yang bilang. Sudahlah, aku manager disini jadi aku akan berusaha semampuku untuk menjaga kita dari isu-isu buruk" Hinata menepuk bahu Temari beberapa kali lalu menoleh ke arah Kiba "Pergilah, aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang penting" Ucap Hinata sambil tersenyum

"Matte, apa yang kamu katakan.." Temari tidak setuju dengan pendapat Hinata

"Manager sangat baik. Temari kau harus berguru padanya, jangan terlalu keras pada anak remaja sepertiku. Bye bye Hinata-san. Muach" Pria kekanak-kanakan itu melempar satu ciuman jarak jauh ke arah Hinata. Tubuhnya menghilang setelah pintu apartemen tertutup.

"Dia tidak pernah kabur dari rumah, lebih tepatnya diusir. Jangan memanjakan anggota didikanmu, Hinata. Walaupun kamu seumuran dengan Kiba, aku tetap menghormati kedudukanmu" Temari melentangkan tubuhnya ke ranjang. Minggu malam tanpa Shikamaru, di kamar itu hanya tersisa Hinata dan dia sendiri

"Benarkah? Jadi itu berarti Kiba sudah mengatakan hal bohong padaku?"

"Seperti yang aku kira.."


***


Lautan manusia hampir seperempat dari wilayah Tokyo kini berkumpul dalam satu studio musik megah. Rela mengantri berjam-jam serta harga tiket masuk yang hanya bisa dibeli dari kalangan menengah ke atas membuat mereka merasa senang bisa melihat secara langsung idola mereka di panggung.

"Hey, dimana Sai?" Dikaitkan strap bass ke bahunya. Acara akan segera di mulai beberapa menit lagi, masih di backstage personil Sevens mempersiapkan alat musik masing-masing.

"Aku sudah mencoba untuk menelponnya namun tak ada jawaban. Anak itu selalu berbuat masalah disaat genting kayak gini" Sakura panik. Tombol-tombol handphone nya hampir copot karena terlalu keras di tekan

Brakk.

"Gomen gomen~ aku belum telat kan?" Suara tak asing terdengar. Dialah sang Drummer, pria berkulit putih pucat ini baru saja datang dengan hembusan nafas memburu. Pintu ruangan make-up di buka sangat keras oleh Sai

"Ambil ini!" Naruto melempar dua stick drum

"Arigatou.." Sai menangkapnya dengan tangan kanan.

"Yosh, lakukan yang terbaik." Keempat orang itu ditambah Kakashi menyatukan telapak tangan "Sevens YES!"

"Ganbarimasu, Sasuke-kun" Sakura tersenyum pada leader di band nya, Sasuke

Tanpa membalas senyuman hangat dari wanita satu-satunya disana, Sasuke berjalan kukuh diatas lantai panggung disusul anggota lain di belakangnya.

Pencahayaan, microphone sudah siap.

"Konbawa minaaaaa.. Are you ready?!" Sasuke menyapa para fans yang diberi nama panggilan '7-Ri'

Kyaaaaa~~~ sorakan kencang menambah semangat. Lagu pertama yang dibawakan berjudul Paradise Kiss ciptaan Kakashi berisi tentang semua fantasi dalam pikirannya, terinspirasi dari buku icha-icha karangan Jiraiya.

Di barisan paling depan tampak seorang gadis berponi rata menggoyangkan tubuhnya ke kiri-ke kanan sesuai dengan irama musik slow nan romantis itu. Mata lavender tanpa pupil hitam bercahaya, menatap lurus ke arah salah satu anggota band Sevens.

"Naruto-kun~" Nama itu yang dia ucapkan beberapa kali sepanjang sesi menonton penampilan band. Hinata mulai menyukai pria blonde ini setelah dia berpapasan langsung di sebuah kafe tempat dia mendapatkan banyak inspirasi untuk lirik-lirik lagunya.

Suara sang Vokalis yang sangat merdu dan menjiwai makna dari setiap kalimat dalam lagunya membuat Hinata terpana, melamun, membayangkan suatu saat nanti dia bisa menjadi teman dekat Naruto. Tiba di lagu cinta bertema "Unrequited Love" air mata tahu-tahu mengalir begitu saja di wajahnya.

"A-aku paling suka lagu ini.." Hinata mengambil sapu tangan dan mengusap kulit wajahnya yang kini basah. Hinata sadar bahwa rasa kagum dalam dirinya sudah bukan dalam daerah menyukai antar fans-bintang saja namun dia sudah jatuh cinta.

"Bisakah aku berada satu panggung denganmu? Aku ingin membuatkan sebuah lagu untukmu, Naruto-kun"

Sisi lain dalam hatinya dia ingin bersama dengan Naruto namun kenyataannya dia adalah anggota Sevens, band saingan terberat.

Beberapa bulan yang lalu..

"Maaf, kami sedang tidak mencari seorang composer musik di perusahaan kami" Tsunade, manager dari TV Music yang di kunjungi oleh Hinata, menolak lamarannya.

Band Re: dibuat oleh Hinata dan teman-teman lain awalanya karena mereka menikmati musik. Hinata bukanlah anggota pemain alat musik di dalam band, dia lebih nyaman menjadi seorang penulis lagu dan menyusun aransemen lagunya sendiri.

"Sugoi, bakat ini tak boleh disia-siakan. Hinata, kamu cocok bekerja di perusahaan musik!" Kiba mengambil lembaran kertas yang tergeletak bebas di atas meja belajar Hinata. Sebelum kelulusan SMA, Hinata sering menulis beberapa lagu seperti curahan hatinya. Meminta Temari, Kiba, Neji dan Shikamaru untuk menyanyikan single itu meskipun baru bisa menampilkannya di panggung kafe atau undangan sekolah.

"Apa kamu serius mengambil jalan ini?" Tanya Neji

Di kuliah semester pertama, kelima orang ini masuk ke Universitas Kyoto secara bersamaan, memilih satu jurusan yang persis pula.

"Aku punya rekaman saat Neji-nii dan yang lainnya menyanyikan lagu ku. Dengan mengirimkan CD ini ke produser, aku harap kalian bisa menjadi band besar. Mohon bantu aku, minna!" Hinata merundukkan punggung, meminta dengan kuat hati

Shikamaru menggaruk belakang kepalanya "Aku tidak suka ketenaran tapi karena kamu sudah memohon seperti itu, mau bagaimana lagi"

"Benar. Hinata kalau sudah mengambil pilihan tidak akan pernah dia menarik ucapannya kembali. Aku akan berusaha bersamamu" Temari menambahkan

Neji hanya mengedikkan bahu, "Hnn"

Hinata tahu sahabatnya akan mendukungnya. Dorongan semangat membara, semakin meneguhkan hati wanita Hyuuga ini.

...

"Ini tidak mungkin!" Sakura melempar tablet miliknya ke arah sofa

"Tidak bisa di prediksi, lagu kita terkalahkan setelah 6 bulan tetap berada di posisi teratas" Sai mengambil tablet Sakura, melihat hot news yang menuliskan sebuah kabar tentang band yang beberapa minggu lalu mereka bicarakan

"Aku ingin mendengar lagu mereka" Sasuke mengangkat telapak tangan, meminta iPod yang sedang di pakai oleh Naruto

"Ini.. aku penasaran dengan pengarang lagunya" Naruto memberikan alat pemutar musik itu pada Sasuke

Earphone dipakaikan ke kedua telinga, lagu kembali diputar ke awal menit.

"Apa yang harus kita lakukan? aku diberitahu sebagian fans fanatik kita berpindah menjadi penggemar band gadungan itu" Sakura mengoceh terus menerus

"Diamlah, aku juga sedang berpikir" Timpal Sasuke, sangat ketus.

Tiga lagu baru dari band Re: diputar beberapa kali oleh Sasuke. Dia merasakan ada tarikan magis setelah mendengarnya sekali.

"Hn.." speaker ear putih yang tadi dia pakai sekarang dilepas, melanjutkan berkata "Aku yakin composer band ini lah yang berperan banyak, kita harus merekrut dia menjadi pengarang lagu untuk kita"

"Tapi, aku kan yang sering menulis lagu untuk band Sevens" Sakura protes. Ujaran Sasuke tadi berkesan bahwa dia sudah tidak akan 'digunakan lagi'

"Ide yang bagus. kita hanya perlu mendatangi label musik mereka, memberi satu kontrak dan dia akan menjadi tambang emas" Sai mengangguk setuju dengan Sasuke

"Sakura-chan, ini demi kebaikan masa depan band Sevens.." Naruto sedikit mengeluarkan jurus penggoda untuk merayu wanitanya

"Jadi kamu ikut setuju pada usul dua pria ini?! NARUTOOO..." Sakura siap mengumpulkan tenaga di telapak tangan kanannya

"Jangan egois. Kamu terlihat yang paling panik mendengar kemerosotan band Sevens, harusnya kamu yang paling menyetujui!" Sasuke menyentaknya. Wanita bermata hazel itu menyerah dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi hari itu juga

Sai meminta Ino untuk menghubungi Temari, dia dulu berteman dekat di kuliah. Ino adalah seorang gadis yang mengenal banyak orang, tipe sosialita.

Ide untuk memaksa target secara langsung di perusahaannya akan berpotensi besar untuk ditolak. Sasuke memikirkan strateginya dengan baik.
Kurang, tambah, bagi lalu dijadikan persen hasilnya akan tetap NOL besar.

"Neji memang hebat bermain mahjong" Kiba mengaku kalah setelah sederet Tile dibuka oleh lawannya

*tile : batu ukiran dalam permainan mahjong

"Berhenti sajalah kalau kamu tidak ahli" Ejek Naruto

Sakura tidak ikut berkumpul, dia cemburu keberadaannya di hadapan Sasuke sudah menghilang. Meskipun tak ada jalinan hubungan diantara dia dan Sasuke, dia masih terus berharap sang Vokalis akan melihatnya suatu hari ini sebagai orang spesial.

"Thanks, God.." Hinata pun sama, dia hanya menonton permainan di belakang.

Minggu siang Temari mengatakan bahwa band terkenal akan berkunjung ke apartemen mereka. Hinata bertanya-tanya band mana yang mau bertemu dengannya. Tak butuh waktu lama, bel berbunyi menandakan tamu sudah datang. Hinata membuka pintu perlahan, mengambil nafas panjang lalu matanya membulat penuh. Yang datang adalah Sevens band! Ada si pirang juga disana.

'Mimpi apa aku semalam? Hari ini tanpa ada jarak diantara aku dan Naruto tiba juga, aku bisa melihatnya dengan jelas disamping tubuhku sendiri, melihat tawa candanya yang menyejukkan jiwa' Hinata terbang dalam angan-angan

Satu tangan menjulur di samping tubuh Hinata "Oishiii.. Tomat nya tidak asam dan tidak terlalu manis. Darimana kamu mendapatkan ini?"

Hinata sadar setelah mendengar suara berintonasi tinggi itu membangunkan mimpinya "Ah.. aku menanamnya sendiri di kebun. Masih banyak loh, musim panas kali ini membuat semua tanamanku subur melimpah" Hinata memang sibuk menyiapkan makanan saja di dapur. Dia tidak menyadari pria berambut raven ini mencuri potongan tomatnya

"Boleh aku minta? aku suka tomat" Ujar Sasuke

"Tentu. Aku akan memetik beberapa buah lain juga untuk Itachi-kun bawa pulang" Hinata membuka celemek yang menempel di tubuhnya

"Itachi?"

"Eh.." Sejak pertama kali bertemu keduanya belum saling tegur sapa atau memperkenalkan diri. Tapi mungkin Sasuke sudah hafal lebih dulu tentang nama wanita pengarang lagu itu "Ka-kamu Itachi kan? aku salah satu fans novel yang kamu buat"

Sasuke tertawa "Hahaha.. aku ini penyanyi bukan penulis novel. Jadi sejak tadi kamu mengira bahwa aku adalah Nii-chan"

Hinata tahu band Sevens tapi dia hanya mengenal nama Naruto saja.

"Maaf, aku tidak tahu banyak. Maaf banget" Hinata malu, wajahnya memerah karena dia terlihat seperti orang linglung di depan Sasuke

"Tidak masalah. Kamu lucu" Sasuke masih terus memakan irisan tomat yang dimasukkan ke dalam tumpukan roti seperti sandwich

"Kiba, kau mau kemana?" Tanya Shikamaru

Kiba menyaut sambil memakai sepatunya "Biasa, orderan" Jawabnya

Personil anggota Re: mengerti dengan kata orderan yang merujuk pada sesuatu. Kiba sering mendapatkan panggilan wanita untuk tidur dengannya, dengan bayaran yang cukup mencengangkan

Satu per satu orang di ruangan itu pulang. Shikamaru beralasan akan mengantar Temari pulang karena dia sudah mabuk berat. Neji harus menyelesaikan tugas skripsi kuliahnya untuk dilaporkan besok pada dosen. Sai paling awal pulang, dia ditagih oleh Ino pergi makan malam. Yang tersisa hanya 4 orang di apartemen mewah itu.

'DON'T DISTURB'

'Sejak kapan kertas bertuliskan kalimat itu menempel di pintu kayu kamar tamu?'

Hinata takut untuk mengetuj pintu kamar satunya, dia tidak ikut mabuk seperti personil Sevens. Terpaksa malam itu mereka menghabiskan waktu untuk menginap sementara di apartemen Hinata. Ya ampun baru juga kenal udah bertingkah seenaknya :|

Sasuke terlihat lemas, dia ikut minum-minum bersama Naruto dan Sakura. Ada sedikit rasa sakit di hati Hinata, mengetahui bahwa pujaan hatinya sudah memiliki pacar dan sampai tidur di kamar yang sama.

"Sasuke-kun, apa Naruto dan Sakura sedang menjalin hubungan?" Hinata membereskan botol-botol bir, berserakan di lantai.

"Mereka sudah tunangan, guk. Tapi Sakura mencintaiku, hah dia tipe wanita tidak berguna guk" Sasuke menjawab pertanyaan dari Hinata sambil cegukan

"Aku menyukainya sejak band Sevens muncul.." Hinata duduk disamping tubuh Sasuke, berniat menceritakan semua isi hati dan kekecewaan karena Naruto tidak bisa menjadi miliknya.

"Oh.." Sasuke mungkin tak bisa menangkap kalimat dari Hinata

Dengan keadaan tertidur seperti ini, wajah Sasuke sangat amat mirip dengan Itachi. Hinata mengumpulkan puluhan novel karangannya karena kisah cinta menyentuh hati setiap kali dibaca.

***

Dulu kedua band ini adalah saingan, tapi sekarang berteman hangat. Dalam satu acara Live di televisi, mereka saling memuji satu sama lain. Gosip beredar Sevens dan Re: memiliki dendam pribadi karena kemunculan band Re: yang mengalahkan lagu hits Sevens.

~Ruangan Khusus Personil Sevens~

"Naruto, kamu belum beres-beres pulang? acara sudah selesai. Sasuke dan Sai pergi duluan karena mereka akan mencari barang dulu" Sakura memasuki ruangan yang tidak terkunci.

Naruto duduk bersandar di sofa merah sambil meminum sake instan kalengan. "Sakura, aku ingin bertanya sesuatu.."

Sakura beranjak mendekatinya "Jarang-jarang kamu terlihat serius seperti ini" tas gitar yang digendongnya ditaruh ke sisi kursi

"Kamu sudah siap untuk menikah denganku?" Bukan karena efek mabuk dia berbicara hal ini. Naruto masih menunggu Sakura di ruangan itu untuk membicarakannya

"Apa kamu mabuk?" Tanya Sakura, keheranan

"Tidak" Dia memeluk Sakura, menindihnya tidur terlentang di atas sofa besar disana.

"Jangan dilakukan disini, nanti kalau ada bagian staff yang tahu kita berdua akan―"

"Sttt.. di luar pintu sudah tertulis jelas, mereka tidak akan berani masuk ke sini" Naruto membuka resleting baju wanitanya


"Aku bersedia menikah denganmu" Sakura mengambil kepala Naruto untuk mendekatkan wajah mereka

***

"Hn, Sai.. cincin yang kamu berikan pada Ino kemarin itu beli dari toko mana?" Di dalam mobil Sasuke menyetir, dan Sai duduk disampingnya

"Memangnya kenapa?" Sai balik bertanya

"Aku akan melamar Hinata"

"Mendadak sekali, bukankah kalian baru saja kenal? Kalian berdua bisa bersama sangat tidak mungkin" Sai mengetahui sifat playboy temannya itu, dia belum percaya pada apa yang baru saja di dengarnya

"Dia sudah mengandung janinku. Katakan saja dimana toko perhiasan itu, aku tidak bertanya tentang komentarmu"

"Jadi kalian sudah pernah ehem? Kapan? Oh tidaaakkk!!!" Dengan ekspresi lebay, drummer zombie ini berteriak

Malam disaat Sasuke, Naruto dan Sakura menginap di rumah Hinata karena mabuk, Hinata membiarkan Sasuke tidur di ruang tamu dan diberi selimut.

Namun pintu kamar Hinata yang lupa dikunci, dibobol Sasuke. Dia mencari tempat empuk seperti spring bed di kamarnya.

"Kasurku~" Sasuke berdiri memandang gadis di kamar itu. Hinata terlelap pulas, dia tidak terusik dengan kedatangan makhluk tak diundang ke hadapannya

Dalam keadaan sadar, Sasuke terpikat pada dua buah dada yang cukup besar menonjol dibalik piyama satin milik Hinata. Dia naik ke kasur dan mulai menaikkan rok dari bawah ke atas.

Belum juga bangun, Sasuke semakin jauh berbuat iseng melucuti pakaian gadis indigo itu. Dia sudah telanjang bulat, dan Sasuke mulai memainkan gunung kembar.

"Geli.." Hinata bisa merasakannya sekarang, saat membuka mata dia kaget "Sasuke-kun kamu sedang apa disini?"

"Hinata, kamu sangat cantik.. ayo kita bermain sebentar" Sasuke mencopot celana jeansnya, dia membekam mulut Hinata dengan telapak tangan kanan

"Hemmpp.." Hinata berusaha melawan.

Ciuman spontan meluluhkannya, dia sudah kalah oleh Sasuke dan terjadilah sesuatu yang tak pernah diharapkan.

Sasuke lupa tidak memakai benda pengaman saat melakukannya, karena memang mendadak jadi mau bagaimana lagi. Hinata pun tidak pernah bercerita pada Temari, dia membiarkan semuanya berlalu dan ingin melupakannya.

Sampai beberapa bulan Sasuke menghilang, Hinata tahu bahwa dia hamil. Oleh siapa lagi kalau bukan pria berambut pantat ayam itu. Bercerita panjang lebar pada semua anggota band Re: Neji mengamuk lalu mengancam akan menyebarkan berita kelakuan brutal Sasuke pada media masa. Keluarga Uchiha dan Hyuuga sempat akan melakukan perang dunia ke 5 tapi Sasuke mengambil keputusan untuk menanggung apa yang sudah dia perbuat.


THE END
 

NaruSaku SasuHina "Through Music" Rated M Fanfiction Indonesia

Disclaimer : Naruto (Masashi Kishimoto)
Penulis cerpen ini : J
[Through Music]
*nama band, lagu serta apapun yang ada dalam fanfic ini hanya karangan saja*

Kakashi menyulut rokok yang sudah menempel dicelah bibirnya. Asap ditiupkan bersamaan dengan hembusan nafas.

"Cuaca di Tokyo cepat berubah, kemarin sangat dingin dan sekarang panasnya ganas. Haaachih―" Naruto mengambil bir kaleng dari kulkas.

"Kenapa kamu malah bersin?" Sasuke duduk di kursi meja makan, meneguk air putih dingin untuk menghilangkan rasa haus akibat suhu meninggi bulan Agustus ini

Menggaruk hidung, Naruto berkata "Tubuhku bereaksi pada perubahan cuaca yang tak tentu. Bisa-bisa Jepang akan mengungguli mesir kalau derajatnya segerah ini"

Glek glek glek, minuman kaleng diteguk sangat cepat olehnya

"Hari ini kalian istirahat saja. Mulai besok sampai seminggu selanjutnya banyak jadwal perfomance yang harus kalian lakukan" Kata Kakashi. Kuntung rokok sudah menjadi abu, dia mengambil beberapa batang rokok lagi dari dalam saku jeans nya

"Aku dengar ada band baru yang single albumnya tiba-tiba meledak di pasaran. Ino memberitahu berita ini setengah-setengah, ha― dia sekarang entah berada dimana. Dia adalah paparazzi andalan kita" Sakura adalah personil yang mengambil peran gitaris di grup band terpopuler di tahun ini.

"Bukannya banyak juga pesaing lain yang mencoba mencuri top chart musik kita? Lagipula sekali lagu kita nge-hits di kalangan masyarakat, lagu dari grup lain tak akan bisa menduduki chart pertama." Naruto membalas kalimat Sakura dengan nada merendahkan

"Ino-pig bilang band satu ini berbeda, kita tidak bisa menyombongkan diri percaya kalau kita akan selalu berada di atas. Aku harus mencari lebih banyak lagi sumber tentang band itu"

"Kau terlalu khawatir, Sakura. Benar apa perkataan Naruto tadi. Fokuslah pada latihan untuk besok" Sasuke membuka lembaran majalah yang berisi trend terkini untuk pakaiannya

Sevens merupakan nama band mereka, beranggotakan 4 personil. Pertama adalah Naruto di posisi gitar dan vokal dua, lalu Sakura yang sudah aku jelaskan di awal, ketiga Sai memegang drum dan yang terakhir yaitu Sasuke bertugas memainkan bass serta vokalis utama. Nama ini diambil dari kelompok tujuh yang saat Sekolah Menengah Atas dulu diberikan pada Kakashi untuk mengumpulkan satu tim jenius yang akan dididik olehnya. Bakat masing-masing semakin menonjol setelah Kakashi mendaftarkan satu kelompoknya ke label musik ternama, memenuhi persyaratan awal membuat satu lagu kompilasi ciptaannya sendiri. Produser menyukai jenis musik mereka yang bergenre Japan pop namun ada sedikit campuran Rock dalam beberapa lagunya.

..
"Moshi moshi~"

Di tengah obrolan, ponsel pria bertanda merah di kedua pipinya berdering. Dia mengangkat panggilan itu dan mundur beberapa langkah dari teman-temannya

"Oh, Shizune-chan" .. "Tidak kok, aku sedang tidak sibuk" .. "Di tottori? Neh~ aku sedang berada di kota Tokyo" .. "Mungkin aku harus menaiki taksi untuk pergi ke sana, mobilku sedang di service di bengkel karena kemarin mogok" .. "Yakin nih? Haha.. baiklah aku akan datang segera kesana. Jaa"

Tut

Layar handphone sudah dilipat kembali. Obrolan singkat dan padat antara dia dan seseorang terdengar jelas oleh Hinata dari ruang tamu

Kiba terlihat mengambil tas gitar listriknya dan menuju pintu utama dalam rumah.

"Mau kemana, Kiba-kun?" Tanya Hinata. Dia merasa penasaran dengan pembicaraan tadi yang tak sengaja dikuping

"Klien memintaku untuk menemaninya di hotel" jawab Kiba.

"Selarut ini kamu berani pergi sendiri tanpa menutup identitas? Kiba, band kita baru saja mendapatkan reaksi baik dari para pecinta musik. Jika kamu melakukan hal yang mencoreng citra band kita, maka kamu―"

Hinata menarik tubuh Temari yang mulai terlihat marah "Kiba-kun masih berumur 19 tahun, dia paling muda dalam band. Biarkan saja dia bebas untuk saat ini karena dia baru saja kabur dari rumahnya dan memutuskan hubungan keluarga dengan ayah dan ibunya" Berbisik pelan pada Temari

"Kata siapa kalau dia kabur dari rumah?" Alis kiri menaik, wanita berambut ikat empat ini terlihat kaget

"Dia sendiri kok yang bilang. Sudahlah, aku manager disini jadi aku akan berusaha semampuku untuk menjaga kita dari isu-isu buruk" Hinata menepuk bahu Temari beberapa kali lalu menoleh ke arah Kiba "Pergilah, aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang penting" Ucap Hinata sambil tersenyum

"Matte, apa yang kamu katakan.." Temari tidak setuju dengan pendapat Hinata

"Manager sangat baik. Temari kau harus berguru padanya, jangan terlalu keras pada anak remaja sepertiku. Bye bye Hinata-san. Muach" Pria kekanak-kanakan itu melempar satu ciuman jarak jauh ke arah Hinata. Tubuhnya menghilang setelah pintu apartemen tertutup.

"Dia tidak pernah kabur dari rumah, lebih tepatnya diusir. Jangan memanjakan anggota didikanmu, Hinata. Walaupun kamu seumuran dengan Kiba, aku tetap menghormati kedudukanmu" Temari melentangkan tubuhnya ke ranjang. Minggu malam tanpa Shikamaru, di kamar itu hanya tersisa Hinata dan dia sendiri

"Benarkah? Jadi itu berarti Kiba sudah mengatakan hal bohong padaku?"

"Seperti yang aku kira.."


***


Lautan manusia hampir seperempat dari wilayah Tokyo kini berkumpul dalam satu studio musik megah. Rela mengantri berjam-jam serta harga tiket masuk yang hanya bisa dibeli dari kalangan menengah ke atas membuat mereka merasa senang bisa melihat secara langsung idola mereka di panggung.

"Hey, dimana Sai?" Dikaitkan strap bass ke bahunya. Acara akan segera di mulai beberapa menit lagi, masih di backstage personil Sevens mempersiapkan alat musik masing-masing.

"Aku sudah mencoba untuk menelponnya namun tak ada jawaban. Anak itu selalu berbuat masalah disaat genting kayak gini" Sakura panik. Tombol-tombol handphone nya hampir copot karena terlalu keras di tekan

Brakk.

"Gomen gomen~ aku belum telat kan?" Suara tak asing terdengar. Dialah sang Drummer, pria berkulit putih pucat ini baru saja datang dengan hembusan nafas memburu. Pintu ruangan make-up di buka sangat keras oleh Sai

"Ambil ini!" Naruto melempar dua stick drum

"Arigatou.." Sai menangkapnya dengan tangan kanan.

"Yosh, lakukan yang terbaik." Keempat orang itu ditambah Kakashi menyatukan telapak tangan "Sevens YES!"

"Ganbarimasu, Sasuke-kun" Sakura tersenyum pada leader di band nya, Sasuke

Tanpa membalas senyuman hangat dari wanita satu-satunya disana, Sasuke berjalan kukuh diatas lantai panggung disusul anggota lain di belakangnya.

Pencahayaan, microphone sudah siap.

"Konbawa minaaaaa.. Are you ready?!" Sasuke menyapa para fans yang diberi nama panggilan '7-Ri'

Kyaaaaa~~~ sorakan kencang menambah semangat. Lagu pertama yang dibawakan berjudul Paradise Kiss ciptaan Kakashi berisi tentang semua fantasi dalam pikirannya, terinspirasi dari buku icha-icha karangan Jiraiya.

Di barisan paling depan tampak seorang gadis berponi rata menggoyangkan tubuhnya ke kiri-ke kanan sesuai dengan irama musik slow nan romantis itu. Mata lavender tanpa pupil hitam bercahaya, menatap lurus ke arah salah satu anggota band Sevens.

"Naruto-kun~" Nama itu yang dia ucapkan beberapa kali sepanjang sesi menonton penampilan band. Hinata mulai menyukai pria blonde ini setelah dia berpapasan langsung di sebuah kafe tempat dia mendapatkan banyak inspirasi untuk lirik-lirik lagunya.

Suara sang Vokalis yang sangat merdu dan menjiwai makna dari setiap kalimat dalam lagunya membuat Hinata terpana, melamun, membayangkan suatu saat nanti dia bisa menjadi teman dekat Naruto. Tiba di lagu cinta bertema "Unrequited Love" air mata tahu-tahu mengalir begitu saja di wajahnya.

"A-aku paling suka lagu ini.." Hinata mengambil sapu tangan dan mengusap kulit wajahnya yang kini basah. Hinata sadar bahwa rasa kagum dalam dirinya sudah bukan dalam daerah menyukai antar fans-bintang saja namun dia sudah jatuh cinta.

"Bisakah aku berada satu panggung denganmu? Aku ingin membuatkan sebuah lagu untukmu, Naruto-kun"

Sisi lain dalam hatinya dia ingin bersama dengan Naruto namun kenyataannya dia adalah anggota Sevens, band saingan terberat.

Beberapa bulan yang lalu..

"Maaf, kami sedang tidak mencari seorang composer musik di perusahaan kami" Tsunade, manager dari TV Music yang di kunjungi oleh Hinata, menolak lamarannya.

Band Re: dibuat oleh Hinata dan teman-teman lain awalanya karena mereka menikmati musik. Hinata bukanlah anggota pemain alat musik di dalam band, dia lebih nyaman menjadi seorang penulis lagu dan menyusun aransemen lagunya sendiri.

"Sugoi, bakat ini tak boleh disia-siakan. Hinata, kamu cocok bekerja di perusahaan musik!" Kiba mengambil lembaran kertas yang tergeletak bebas di atas meja belajar Hinata. Sebelum kelulusan SMA, Hinata sering menulis beberapa lagu seperti curahan hatinya. Meminta Temari, Kiba, Neji dan Shikamaru untuk menyanyikan single itu meskipun baru bisa menampilkannya di panggung kafe atau undangan sekolah.

"Apa kamu serius mengambil jalan ini?" Tanya Neji

Di kuliah semester pertama, kelima orang ini masuk ke Universitas Kyoto secara bersamaan, memilih satu jurusan yang persis pula.

"Aku punya rekaman saat Neji-nii dan yang lainnya menyanyikan lagu ku. Dengan mengirimkan CD ini ke produser, aku harap kalian bisa menjadi band besar. Mohon bantu aku, minna!" Hinata merundukkan punggung, meminta dengan kuat hati

Shikamaru menggaruk belakang kepalanya "Aku tidak suka ketenaran tapi karena kamu sudah memohon seperti itu, mau bagaimana lagi"

"Benar. Hinata kalau sudah mengambil pilihan tidak akan pernah dia menarik ucapannya kembali. Aku akan berusaha bersamamu" Temari menambahkan

Neji hanya mengedikkan bahu, "Hnn"

Hinata tahu sahabatnya akan mendukungnya. Dorongan semangat membara, semakin meneguhkan hati wanita Hyuuga ini.

...

"Ini tidak mungkin!" Sakura melempar tablet miliknya ke arah sofa

"Tidak bisa di prediksi, lagu kita terkalahkan setelah 6 bulan tetap berada di posisi teratas" Sai mengambil tablet Sakura, melihat hot news yang menuliskan sebuah kabar tentang band yang beberapa minggu lalu mereka bicarakan

"Aku ingin mendengar lagu mereka" Sasuke mengangkat telapak tangan, meminta iPod yang sedang di pakai oleh Naruto

"Ini.. aku penasaran dengan pengarang lagunya" Naruto memberikan alat pemutar musik itu pada Sasuke

Earphone dipakaikan ke kedua telinga, lagu kembali diputar ke awal menit.

"Apa yang harus kita lakukan? aku diberitahu sebagian fans fanatik kita berpindah menjadi penggemar band gadungan itu" Sakura mengoceh terus menerus

"Diamlah, aku juga sedang berpikir" Timpal Sasuke, sangat ketus.

Tiga lagu baru dari band Re: diputar beberapa kali oleh Sasuke. Dia merasakan ada tarikan magis setelah mendengarnya sekali.

"Hn.." speaker ear putih yang tadi dia pakai sekarang dilepas, melanjutkan berkata "Aku yakin composer band ini lah yang berperan banyak, kita harus merekrut dia menjadi pengarang lagu untuk kita"

"Tapi, aku kan yang sering menulis lagu untuk band Sevens" Sakura protes. Ujaran Sasuke tadi berkesan bahwa dia sudah tidak akan 'digunakan lagi'

"Ide yang bagus. kita hanya perlu mendatangi label musik mereka, memberi satu kontrak dan dia akan menjadi tambang emas" Sai mengangguk setuju dengan Sasuke

"Sakura-chan, ini demi kebaikan masa depan band Sevens.." Naruto sedikit mengeluarkan jurus penggoda untuk merayu wanitanya

"Jadi kamu ikut setuju pada usul dua pria ini?! NARUTOOO..." Sakura siap mengumpulkan tenaga di telapak tangan kanannya

"Jangan egois. Kamu terlihat yang paling panik mendengar kemerosotan band Sevens, harusnya kamu yang paling menyetujui!" Sasuke menyentaknya. Wanita bermata hazel itu menyerah dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi hari itu juga

Sai meminta Ino untuk menghubungi Temari, dia dulu berteman dekat di kuliah. Ino adalah seorang gadis yang mengenal banyak orang, tipe sosialita.

Ide untuk memaksa target secara langsung di perusahaannya akan berpotensi besar untuk ditolak. Sasuke memikirkan strateginya dengan baik.
Kurang, tambah, bagi lalu dijadikan persen hasilnya akan tetap NOL besar.

"Neji memang hebat bermain mahjong" Kiba mengaku kalah setelah sederet Tile dibuka oleh lawannya

*tile : batu ukiran dalam permainan mahjong

"Berhenti sajalah kalau kamu tidak ahli" Ejek Naruto

Sakura tidak ikut berkumpul, dia cemburu keberadaannya di hadapan Sasuke sudah menghilang. Meskipun tak ada jalinan hubungan diantara dia dan Sasuke, dia masih terus berharap sang Vokalis akan melihatnya suatu hari ini sebagai orang spesial.

"Thanks, God.." Hinata pun sama, dia hanya menonton permainan di belakang.

Minggu siang Temari mengatakan bahwa band terkenal akan berkunjung ke apartemen mereka. Hinata bertanya-tanya band mana yang mau bertemu dengannya. Tak butuh waktu lama, bel berbunyi menandakan tamu sudah datang. Hinata membuka pintu perlahan, mengambil nafas panjang lalu matanya membulat penuh. Yang datang adalah Sevens band! Ada si pirang juga disana.

'Mimpi apa aku semalam? Hari ini tanpa ada jarak diantara aku dan Naruto tiba juga, aku bisa melihatnya dengan jelas disamping tubuhku sendiri, melihat tawa candanya yang menyejukkan jiwa' Hinata terbang dalam angan-angan

Satu tangan menjulur di samping tubuh Hinata "Oishiii.. Tomat nya tidak asam dan tidak terlalu manis. Darimana kamu mendapatkan ini?"

Hinata sadar setelah mendengar suara berintonasi tinggi itu membangunkan mimpinya "Ah.. aku menanamnya sendiri di kebun. Masih banyak loh, musim panas kali ini membuat semua tanamanku subur melimpah" Hinata memang sibuk menyiapkan makanan saja di dapur. Dia tidak menyadari pria berambut raven ini mencuri potongan tomatnya

"Boleh aku minta? aku suka tomat" Ujar Sasuke

"Tentu. Aku akan memetik beberapa buah lain juga untuk Itachi-kun bawa pulang" Hinata membuka celemek yang menempel di tubuhnya

"Itachi?"

"Eh.." Sejak pertama kali bertemu keduanya belum saling tegur sapa atau memperkenalkan diri. Tapi mungkin Sasuke sudah hafal lebih dulu tentang nama wanita pengarang lagu itu "Ka-kamu Itachi kan? aku salah satu fans novel yang kamu buat"

Sasuke tertawa "Hahaha.. aku ini penyanyi bukan penulis novel. Jadi sejak tadi kamu mengira bahwa aku adalah Nii-chan"

Hinata tahu band Sevens tapi dia hanya mengenal nama Naruto saja.

"Maaf, aku tidak tahu banyak. Maaf banget" Hinata malu, wajahnya memerah karena dia terlihat seperti orang linglung di depan Sasuke

"Tidak masalah. Kamu lucu" Sasuke masih terus memakan irisan tomat yang dimasukkan ke dalam tumpukan roti seperti sandwich

"Kiba, kau mau kemana?" Tanya Shikamaru

Kiba menyaut sambil memakai sepatunya "Biasa, orderan" Jawabnya

Personil anggota Re: mengerti dengan kata orderan yang merujuk pada sesuatu. Kiba sering mendapatkan panggilan wanita untuk tidur dengannya, dengan bayaran yang cukup mencengangkan

Satu per satu orang di ruangan itu pulang. Shikamaru beralasan akan mengantar Temari pulang karena dia sudah mabuk berat. Neji harus menyelesaikan tugas skripsi kuliahnya untuk dilaporkan besok pada dosen. Sai paling awal pulang, dia ditagih oleh Ino pergi makan malam. Yang tersisa hanya 4 orang di apartemen mewah itu.

'DON'T DISTURB'

'Sejak kapan kertas bertuliskan kalimat itu menempel di pintu kayu kamar tamu?'

Hinata takut untuk mengetuj pintu kamar satunya, dia tidak ikut mabuk seperti personil Sevens. Terpaksa malam itu mereka menghabiskan waktu untuk menginap sementara di apartemen Hinata. Ya ampun baru juga kenal udah bertingkah seenaknya :|

Sasuke terlihat lemas, dia ikut minum-minum bersama Naruto dan Sakura. Ada sedikit rasa sakit di hati Hinata, mengetahui bahwa pujaan hatinya sudah memiliki pacar dan sampai tidur di kamar yang sama.

"Sasuke-kun, apa Naruto dan Sakura sedang menjalin hubungan?" Hinata membereskan botol-botol bir, berserakan di lantai.

"Mereka sudah tunangan, guk. Tapi Sakura mencintaiku, hah dia tipe wanita tidak berguna guk" Sasuke menjawab pertanyaan dari Hinata sambil cegukan

"Aku menyukainya sejak band Sevens muncul.." Hinata duduk disamping tubuh Sasuke, berniat menceritakan semua isi hati dan kekecewaan karena Naruto tidak bisa menjadi miliknya.

"Oh.." Sasuke mungkin tak bisa menangkap kalimat dari Hinata

Dengan keadaan tertidur seperti ini, wajah Sasuke sangat amat mirip dengan Itachi. Hinata mengumpulkan puluhan novel karangannya karena kisah cinta menyentuh hati setiap kali dibaca.

***

Dulu kedua band ini adalah saingan, tapi sekarang berteman hangat. Dalam satu acara Live di televisi, mereka saling memuji satu sama lain. Gosip beredar Sevens dan Re: memiliki dendam pribadi karena kemunculan band Re: yang mengalahkan lagu hits Sevens.

~Ruangan Khusus Personil Sevens~

"Naruto, kamu belum beres-beres pulang? acara sudah selesai. Sasuke dan Sai pergi duluan karena mereka akan mencari barang dulu" Sakura memasuki ruangan yang tidak terkunci.

Naruto duduk bersandar di sofa merah sambil meminum sake instan kalengan. "Sakura, aku ingin bertanya sesuatu.."

Sakura beranjak mendekatinya "Jarang-jarang kamu terlihat serius seperti ini" tas gitar yang digendongnya ditaruh ke sisi kursi

"Kamu sudah siap untuk menikah denganku?" Bukan karena efek mabuk dia berbicara hal ini. Naruto masih menunggu Sakura di ruangan itu untuk membicarakannya

"Apa kamu mabuk?" Tanya Sakura, keheranan

"Tidak" Dia memeluk Sakura, menindihnya tidur terlentang di atas sofa besar disana.

"Jangan dilakukan disini, nanti kalau ada bagian staff yang tahu kita berdua akan―"

"Sttt.. di luar pintu sudah tertulis jelas, mereka tidak akan berani masuk ke sini" Naruto membuka resleting baju wanitanya


"Aku bersedia menikah denganmu" Sakura mengambil kepala Naruto untuk mendekatkan wajah mereka

***

"Hn, Sai.. cincin yang kamu berikan pada Ino kemarin itu beli dari toko mana?" Di dalam mobil Sasuke menyetir, dan Sai duduk disampingnya

"Memangnya kenapa?" Sai balik bertanya

"Aku akan melamar Hinata"

"Mendadak sekali, bukankah kalian baru saja kenal? Kalian berdua bisa bersama sangat tidak mungkin" Sai mengetahui sifat playboy temannya itu, dia belum percaya pada apa yang baru saja di dengarnya

"Dia sudah mengandung janinku. Katakan saja dimana toko perhiasan itu, aku tidak bertanya tentang komentarmu"

"Jadi kalian sudah pernah ehem? Kapan? Oh tidaaakkk!!!" Dengan ekspresi lebay, drummer zombie ini berteriak

Malam disaat Sasuke, Naruto dan Sakura menginap di rumah Hinata karena mabuk, Hinata membiarkan Sasuke tidur di ruang tamu dan diberi selimut.

Namun pintu kamar Hinata yang lupa dikunci, dibobol Sasuke. Dia mencari tempat empuk seperti spring bed di kamarnya.

"Kasurku~" Sasuke berdiri memandang gadis di kamar itu. Hinata terlelap pulas, dia tidak terusik dengan kedatangan makhluk tak diundang ke hadapannya

Dalam keadaan sadar, Sasuke terpikat pada dua buah dada yang cukup besar menonjol dibalik piyama satin milik Hinata. Dia naik ke kasur dan mulai menaikkan rok dari bawah ke atas.

Belum juga bangun, Sasuke semakin jauh berbuat iseng melucuti pakaian gadis indigo itu. Dia sudah telanjang bulat, dan Sasuke mulai memainkan gunung kembar.

"Geli.." Hinata bisa merasakannya sekarang, saat membuka mata dia kaget "Sasuke-kun kamu sedang apa disini?"

"Hinata, kamu sangat cantik.. ayo kita bermain sebentar" Sasuke mencopot celana jeansnya, dia membekam mulut Hinata dengan telapak tangan kanan

"Hemmpp.." Hinata berusaha melawan.

Ciuman spontan meluluhkannya, dia sudah kalah oleh Sasuke dan terjadilah sesuatu yang tak pernah diharapkan.

Sasuke lupa tidak memakai benda pengaman saat melakukannya, karena memang mendadak jadi mau bagaimana lagi. Hinata pun tidak pernah bercerita pada Temari, dia membiarkan semuanya berlalu dan ingin melupakannya.

Sampai beberapa bulan Sasuke menghilang, Hinata tahu bahwa dia hamil. Oleh siapa lagi kalau bukan pria berambut pantat ayam itu. Bercerita panjang lebar pada semua anggota band Re: Neji mengamuk lalu mengancam akan menyebarkan berita kelakuan brutal Sasuke pada media masa. Keluarga Uchiha dan Hyuuga sempat akan melakukan perang dunia ke 5 tapi Sasuke mengambil keputusan untuk menanggung apa yang sudah dia perbuat.


THE END
 

NaruSaku SasuHina Fanfiction "After School"


Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
By:J
Danger | Danger | Danger
Rated M

~~~

“Na~ Sakura, kamu terus menatap pada pelayan itu..” Ino merasa dirinya diacuhkan saat makan siang.

Pelajaran olahraga yang terjadwal di jam ketiga dan keempat setelah bidang studi Kimia di kelas 2-5, hari itu di musim panas cahaya matahari terlalu terik sehingga murid-murid menyerbu sebuah kantin yang menyediakan beberapa macam makanan dan minuman segar di lantai dasar gedung sekolah.

“Dobe, minta satu es teh manis ditambah jeruk. Es nya yang banyak..”  Teriak Lee, cowok beralis tebal dan memakai pakaian hijau ketat di tubuhnya.

“Punggungmu basah sekali, Lee. Lari berapa keliling tadi?” Tanya Neji, teman sekelas si copy’an Bruce Lee

Baju yang dipakai lee tertembus air keringat yang bercucuran, rambutnya basah kebanjiran dan terlihat lepek

“98 putaran, masih kurang puas”

Matanya mengadah keatas sambil mengepalkan tangan semangat

“Seorang pria sejati harus bisa mencapai 100 keliling tapi sayang banget hari ini cuaca tidak mendukung”

Neji menepuk jidatnya yang tertutup perban “Katamu pria sejati? Tidak perlu melakukan hal bodoh yang tidak disuruh oleh guru Gai”

“Sudah datang pesanannya~~” Sahut Naruto

Meja pelanggan penuh, tidak ada kursi kosong lagi. Pelayan di kantin kecil itu hanya Naruto seorang, dia begitu sibuk menulis pesanan, pulang pergi ke meja pelanggan, tapi dia sangat bahagia karena hari ini jualannya laris manis.

“Satu es teh dengan perasan lemon. Hari ini cuaca sangat panas, semoga bisa membuat tubuhmu lebih segar” Naruto menaruh 3 gelas dingin di meja lee, tersenyum ramah agar para pembeli tidak bosan di warungnya

“Pelayan, tolong kesini dulu aku mau pesan sesuatu..”

“Oke, aku akan segera datang” Berlari ke wilayah seberang

Wanita yang memiliki rambut berwarna merah jambu belum memesan apapun, dia ditemani Ino yang sudah kelaparan selama seperempat jam.

“Sakuraa, aku belum makan sesuatu, perutku keroncongan nih..” Ino mulai tidak sabaran

“Sebentar lagi” Jawab Sakura, pendek. Dia menahan rahangnya dengan satu tangan yang bertumpu diatas meja, menatap si pelayan pria begitu aktif melayani orang-orang

Ino terpaksa memakan tisu yang tersedia di box. Katanya Sakura akan mentraktir Ino hari ini, Ino lupa membawa dompetnya di kelas. Bukan malas untuk berjalan kembali mengambil wallet miliknya tapi kelas di sekolah itu beribu-ribu jumlahnya, luas sekolah yang hampir beratus hektar adalah angka yang sangat fantastis untuk membuat para murid kecapekan berjalan melewati lorong.

“Pe-la-yan..” Sakura akhirnya mengacungkan lengan tanda sudah siap memesan sesuatu

Ino mengambil nafas panjang, dia tidak jadi mati kurus.

“Pesan apa, senpai?” Naruto memegang balpoin dan buku catatan kecil di lengannya. Berhadapan dengan wajah Sakura.

“Apapun saja yang kamu suka”

Naruto menggaruk pelipisnya “Ja-jadi bagaimana?”

“Ambilkan saja menu yang paling favorit disini, aku akan selalu suka”

“Jangan lupa makanan yang mengenyangkan tapi ngga bikin gemuk” Tambah Ino

Naruto mengangguk “Baiklah, tunggu sebentar ya” Dia berlalu menuju etalase toko

“Aku merasa ada sesuatu yang aneh disini. Sakura, jangan bilang kalau kamu―”

“Kenapa? Apanya yang aneh?” Sakura sedikit membuka kancing kerah kemeja dan menaburkan bedak di pipi mulusnya.

“Setiap makan di kantin ini kamu selalu menjadi pelanggan terakhir, memesan setelah orang lain selesai padahal kamu yang paling awal datang”

“Kebiasaan mungkin”

Naruto kembali menghampiri kedua gadis ini untuk mengantarkan makanan “Hawaii dragonfruit dan Pasta tomat saus tanpa lemak. Untuk senpai, ehm siapa namanya? Aku memilihkan minuman ini karena terasa manis dan cocok sekali untuk musim bulan ini”

“Panggil aku Sakura, kamu sendiri?”

"Naruto Uzumaki"

Sakura mengambil minuman itu “Sugoi, rasanya benar-benar segar. Pilihan Naruto-kun selalu bagus untukku” Wajahnya memancarkan sifat manja

“Pastanya juga enak. Kantinmu tidak ada tandingannya” Ino langsung melahap habis sepiring makanan khas itali itu

“Terima kasih Sakura-senpai. Jika ada yang dibutuhkan, bisa panggil aku” Ujung bibirnya menaik tersenyum

“Ha-i”

***
Sore hari kantin milik Naruto sudah dibereskan. Dia menghitung uang yang didapat hari ini, duduk dibawah pohon rindang di teras sekolah Konoha Gakuen

“Narutoooo..” Panggilan nyaring berasal dari gerbang, wanita manis berlari kearahnya

“Hinata-chan, kelasmu sudah selesai?” Naruto bangun dari tanah, menjemput kekasihnya yang setiap hari selalu pulang bersama

“Hemp” Hinata memberi anggukan kecil “Sudah lama menungguku?” Mereka berdua mulai melangkahkan kaki kedepan, bergandengan tangan

“Tidak kok, aku hafal jam pulang kelasmu setiap hari jadi tidak perlu dipikirkan. Setahun menunggu pun aku bersedia jika untuk Hinata-chan”

“Haha.. Naruto-kun bisa aja merayunya”

“Hari ini aku dapat rezeki yang lumayan, mau ke toko ramen ichiraku? Sudah lama aku tidak memakan makanan lezat itu” Naruto adalah seorang ramen lovers

“Air liurmu mengalir tuh! Haha.. padahal kamu jualan makanan juga tapi tetap mengidolakan ramen. Aku juga lapar, tapi nanti aku akan mengganti traktiranmu di kencan selanjutnya”

Naruto mengelap pipinya yang basah “Ehehe, gomen saking terlalu membayangkan ramen. Tidak perlu kamu ganti, aku ikhlas memberimu apapun Hinata-chan”

“Naruto-kun, kenapa tidak sekolah bareng aku saja?” Langkah mereka terpotong di lampu merah, menunggu mobil berhenti melaju untuk menyebrangi jalan raya

“Ada angin apa tiba-tiba menanyakan hal itu? Konohagakuen adalah sekolah ter-elit se Jepang. Aku yakin tidak bisa masuk menjadi murid academy, yah secara aku hidup sendiri sebatang kara dengan ekonomi pas-pasan. Otakku juga ngga terlalu pintar seperti Hinata-chan, pasti tidak akan ada kesempatan mendapatkan beasiswa” Ucap Naruto sambil tertawa polos

Lampu peringatan untuk para pejalan kaki menyala, mereka melangkah diatas garis putih masih saling bertautan tangan.

“Di umur yang masih muda bahkan belum genap dua puluh tahun kamu selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku tidak tega melihatnya” Hinata teringat semenjak SMP Naruto sudah punya kerja sampingan untuk membiayai sekolahnya

“Aku seorang pria pekerja keras! Semangat membara untuk menggapai apa yang aku inginkan, keberadaan Hinata-chan disisiku sangat berpengaruh, sampai 3 tahun menjalin hubungan aku merasa tidak pernah bosan dan terus termotivasi”

Hinata cekikikan

“Kenapa tertawa? Aku masuk ke tipe suami idamanmu kan?” Alis Naruto menaik

“Kita serahkan saja pada Tuhan tentang masalah jodoh. Lagian aku juga masih 17 tahun, Naruto.. Belum siap menikah muda”

Naruto menggerutu, sifat aslinya selalu muncul dihadapan pacarnya

~~~
Teng Teng Teng.. bel pulang sudah berbunyi, murid-murid bergerombol keluar dari ruang kelas masing-masing. Sabtu sore pukul 4.50 Hinata berniat untuk menemui Naruto karena pesan singkat penting masuk ke ponselnya untuk memberitahu tempat pertemuan.

“Tunggu..” Seseorang memecahkan keheningan kelas yang kosong. Suaranya menjadi terdengar jelas tidak seperti saat jam-jam pelajaran yang selalu berisik oleh celotehan temannya

Hinata menoleh, rambut indigonya yang panjang terkibas ke arah berlawanan. “Ada apa?”

“Aku disuruh mengambil beberapa berkas murid kelas musik, tapi kata guru Kakashi tertinggal di ruangannya” ucap Sasuke.

Sasuke Uchiha adalah ketua kelas 2-5, pria misterius penuh dengan rahasia dan jarang sekali bergaul dengan orang. Namun murid wanita banyak yang mampir ke rumahnya satu malam saja, entah apa yang mereka lakukan. Paras nya yang tampan, tubuh kekar sempurna benar-benar laki, rambut raven terkeren di jamannya dan dia adalah anak bungsu dari pemilik sekolah, Fugaku Uchiha. Udah tampan, kaya, pintar, bikin gereget banyak orang –bahkan pria- [Oh nooo XD] kecuali si miskin, Hinata.

“Hm, Cuma sebentar kan? Oke aku bantu”

Di perjalanan dua karakter yang saling berlawanan ini tidak memulai obrolan. Hinata terus menatap layar ponselnya yang sesekali berdering, lain halnya dengan Sasuke yang menatap lurus ke depan.

Kelas musik klasik sudah dekat. Akhirnya mereka sampai di depan pintu

“Saat sore hari ruangan ini menjadi gelap karena semua dinding dilapisi kedap suara” Kata Sasuke, menerangkan.

Terlihat berbagai alat musik mewah berjajar rapih, mulai dari terompet berlusin-lusin tergantung ditembok, piano klasik dari brand Yamaha, biola dan wadahnya serta masih banyak instrument lengkap disana. Hinata belum pernah masuk ke ruangan ini, dia tidak memiliki biaya untuk ekstrakulikuler di sekolahnya serta bakatnya tidak terlalu menonjol, hanya kepintaran dalam bidang pelajaran yang dia miliki.

“Tapi dingin ya, AC nya ngga dimatikan?” Tanya Hinata, menggesekkan telapak tanggannya supaya lebih hangat

“Ah mungkin anak musik lupa mematikan.” Sasuke awalnya akan memencet tombol off, tapi dia berubah pikiran “Biarkan saja dulu, masih ada urusan yang belum kita selesaikan biar ngga gerah”

“Oh iya, kamu tadi bertanya aku bisa main piano? Ngga terlalu ahli sih cuma waktu kecil pernah ikut les piano beberapa bulan, memangnya kenapa?” Hinata duduk di sebuah meja kayu

Sasuke sudah selesai mengambil berkas-berkas yang terbungkus map dan dimasukkan ke tas jinjing miliknya “Kemari..” Sasuke melambaikan tangan, menyuruh Hinata mendekatinya yang berdiri di samping piano

Hinata tidak berfikir banyak hal saat itu, dia mengikuti perintah Sasuke “Aku akan menemui seseorang sebentar lagi, aku harap kita tidak berlama-lama diruangan ini”

“Kamu ada janji dengan seseorang?” Tanya Sasuke

“Iya”

“Dengan siapa? Aku tidak tahu kalau kamu masih ada urusan, maaf sudah mengambil waktumu”

“Dengan Naruto, pacarku. Tak apa, Sasuke.. Katanya menunggu dua belas bulan pun bukan jadi masalah untuknya, hehe” Hinata sedikit canggung dengan pria itu

Sasuke merunduk, dia merasa cemburu mendengar kata ‘pacarku’

“Sasuke?”

Tidak ada jawaban

Hinata mencoba memeriksa wajah Sasuke yang tidak tampak jelas karena kegelapan.

BRUAKK. Tubuh Hinata didorong oleh telapak tangan Sasuke yang besar

“Aww..” Suara merintih kesakitan, sikutnya yang pertama kali terbentur lantai kayu terasa perih, lecet meskipun tidak sampai berdarah

Perut Hinata dipegang, lalu dibalikkan menjadi posisi menungging. Dia tidak bisa bergerak atau melawan karena kepalanya terus ditekan oleh lengan Sasuke kebawah mencium dasar lantai

“Sasuke, kamu kenapa? Apa yang akan kamu lakukan?” Hinata meronta ingin melarikan diri

“Kamu tahu, aku menyukaimu dari dulu sejak pertama kali kita bertemu di kelas satu” Tangan kiri Sasuke membuka pengait celananya dan dia sudah setengah telanjang

“A-apa maksudmu? Lepaskan, aku jadi takut”

“Aku marah mendengar bahwa kamu sudah punya pacar, bahkan berita itu keluar dari mulutmu sendiri secara langsung. Ini menyakitnya, Hinata” Sasuke menaikkan rok Hinata, diturunkan celana dalamnya sehingga terlihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah diperlihatkan oleh Hinata pada Sasuke

“Sasuke, berhenti!” Wajah Hinata memerah karena sifat alami pemalunya dan marah tubuhnya diperlakukan seperti itu oleh seorang pria

Tidak peduli pada perkataan yang dilontarkan oleh Hinata, Sasuke lanjut memasukkan juniornya ke lubang Hinata

“Susah masuk.. euuh”

Hinata meringik, meminta tolong untuk berhenti “Sasuke aku mohon, aku tidak mau menghancurkan masa depa― kyaaaa”

Terasa benda panjang itu dipaksa masuk, Hinata benar-benar merasakan sakit di selangkangannya

“Hiks..hikss. Yamete kudasai”

Akhirnya pertahanan selaput dara Hinata koyak oleh sedikit gerakan Sasuke yang menggoyangkan pinggulnya. “Hinata, aku mencintaimu”

Cinta? Cinta katamu? Itu bukan cinta tapi NAFSU!

“BRENG**K, BAJ****N!” Hinata sangat marah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa

“Apapun perkataanmu aku tidak akan goyah, aku sangat ingin memilikimu”

Gerakannya perlahan diawal karena masih sulit untuk masuk penuh ke vagina Hinata

“A…ahh”

“Kamu juga menikmatinya, desahanmu sangat erotis”

“Sa-kit sasuke..”

Semakin cepat pinggul Sasuke bergerak, kenikmatan tersentuh dinding vulva yang masih perawan memberi sensasi untuk Sasuke.

“Itai, itai, yamete..”

“Diam Hinata, aku tidak akan melukaimu”

“Uh..” Tekanan pada kepalanya belum bisa dikalahkan. Hinata menangis, air mata bercucuran dari mata lavender pucatnya

Tas jinjing yang tergeletak di lantai sekilas memberi ide, Hinata berusaha meraih benda itu dengan lengan, Sasuke terlalu menikmati tubrukan dalam tubuh Hinata.

JEDUKK. Tas berat itu dihantamkan ke wajah Sasuke yang berada di belakangnya.
Sasuke terpental, tangan yang menahan Hinata sudah lepas. Hinata bangun, pahanya masih sakit, karena belum bisa berdiri dia mengesot ke dekat pintu.
Tapi Sasuke tidak pingsan.

“Mau coba-coba untuk kabur dariku, hah?” Sasuke geram, dia semakin bernafsu untuk kembali melanjutkan kegiatannya

“KENAPA SASUKE? KENAPA HARUS AKU?” Bentak Hinata

“Cinta datang dengan sendirinya” Sasuke berjalan mendekat. Suasana di mata Hinata seperti dalam film horror

“Hikss.. aku lebih baik mati saja karena kamu sudah merenggut kesucianku!”

Sasuke tersentak, matanya terbelalak. “Kamu jangan mati, aku tidak mau kehilanganmu” Dia memeluk tubuh Hinata yang gemetaran lemas

“Lepaskan bajingan! Aku menghargaimu selama ini, keluargamu sangat baik padaku karena aku bisa bersekolah disini dengan bantuan mereka. A-aku..hiks”

“Menikahlah denganku, aku tidak akan lari dari tanggung jawab”

“Tanggung jawab? Kamu kira aku menginginkan hal ini, kamu pikir aku sama dengan wanita lain yang hanya stand one night denganmu? Cih..” Hinata menolak pelukan hangat dari sang Uchiha, ruangan dingin itu menusuk tulang sekarang

“Hn, kamu mengkhawatirkan pacar miskin mu itu? Oi, dia juga selingkuh dibelakangmu”

‘Apa yang dia bilang, Naruto selingkuh? Sasuke tahu darimana tentang Naruto?’

Diambil ponselnya dari saku kemeja “Lihatlah, kamu akan percaya setelah melihat dengan kepalamu sendiri”

Satu video sedang diputar. Hinata mengambil ponsel Sasuke untuk melihatnya seksama, tidak mengerti apa maksud semua ini

*beberapa hari yang lalu*

“Uhmp, aku jadi ngga bisa nongkrong di kantinmu lagi..” Sakura duduk di kursi beton samping kelas, mengayunkan kakinya seperti anak kecil

“I-iya. Karena modal yang kurang aku jadi berhenti membuka toko. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan pekerjaan di sekolah ini sebagai seorang penjaga sekolah dan cleaning-service” jawab Naruto, orang yang mulai menjadi teman Sakura setelah beberapa kali bertemu menjadi pelanggan setianya

“Ah iya, di kamar mandi cewek ada bekas cairan jus yang tumpah. Apa kamu bisa bersihkan?”

“Bisa bisa. Di kamar mandi yang mana?” Maklum, tidak hanya ada satu di sekolah itu

“Akan aku tunjukkan” Sakura menuntun Naruto ke kamar mandi wanita yang berada cukup jauh dari kelasnya

“Ano, di sebelah mana yang kotor? tidak ada tumpahan jus disini” Naruto melirik kesana-kemari mencari

“Disini..”

“Hah―”

Sakura menganggkang di atas wastafel depan cermin, menunjukkan belahan pahanya yang masih tertutup kain merah.

“Kenapa bengong? Kamu berfikir tidak akan ada lava-juice keluar dari sini?”

“Ta-tapi..”

“Tidak ada yang tahu, aku akan membayarmu berapapun yang kamu mau”

Naruto bingung dalam memilih dua pilihan, ya atau tidak. Tapi dia sedang terlilit hutang uang kostan yang sudah 6 bulan tidak dibayar. Hampir 3 juta.

“Berapapun?” Dengan terpaksa, jika Sakura bisa memberinya upah lebih dari 3 juta, dia benar-benar perlu mengambil kesempatan ini

“Ya. Aku akan memberimu lima juta, cukup?”

Dasar orang kaya, uang segitu dibuang dengan mudah begitu saja.

“Baiklah. Aku juga kan seorang cleaning-service, benarkah dari tempat itu akan muncul lava-juice?”

“Tentu, Naruto-kun” Sakura menyandar di dinding “Mulailah menjilatnya perlahan”

“Ha-I” Naruto memasukkan lidahnya ke belahan paha Sakura, teraba daging kecil yang tersmbunyi disana

“A..h” Desah Sakura

“Sebelum celanamu kotor, akan lebih bagus jika aku membukannya dulu” Naruto menarik celana tipis itu

“Kamu jago juga membukanya” Puji Sakura. Lengannya sengaja menutupi area danger untuk menarik perhatian Naruto, seraya berkata “Lihat aku, Naruto-kun”

Jari-jari Sakura memainkan g-spot miliknya, Naruto mulai terangsang melihat kegiatan hentai yang dilakukan Sakura.

“Ah, ah, ah..”

“Se-senpai” Naruto membuka resleting celana, secara refleks ingin melakukan masturbasi

Sekarang jari telunjuknya memasuki lubang pink Sakura, cairan pelumas mulai keluar. Naruto menggesek-gesekkan kepunyaannya dengan telapak tangan, membuat si junior berdiri dan mengeras

“Naruto-kun, ayo lakukan sekarang.. aah”

“I-iya”

“Awwww― yappari, kamu orang yang bisa diandalkan..” Sakura terlihat senang

Naruto tahu bagaimana caranya memberikan kenikmatan pada Sakura. Dia lalu memainkan bola-bola kembar yang sudah tidak tertutup dihadapannya

“Sen-pai.. ahh” Naruto bergelinjang

“Naruto-kun, slow down” Gerakannya semakin cepat “Se-sepertinya i-ini akan semakin dalam”

“Sakura-chan memiliki insting yang kuat”

Sakura menghentikan genjotan Naruto, dia berubah posisi. Menungging, kaki kanannya dinaikan ke wastafel. Naruto akan lebih mudah masuk dengan posisi ini.

“Kyaa.. ah. Aku tidak mau kalah dengan wanita lain, Naruto-kun. I will suck you with my technique” Sakura membalikkan wajahnya ke belakang, lidah mereka bertemu saling menjilati saliva

“A,ah Sakura-senpai, jika kamu bergoyang ini akan semakin rapat”

“Kamu ternyata masih seumuranku” Didorong tubuh Naruto, dia sekarang terlentang di lantai

“Mari kita coba tanpa karet ini” Sakura melepas alat pengaman seks dari mr p Naruto

“Sa-kuraaa..”

“A-ahh.. terasa lebih enakkan gini, Naruto-kun” Sakura melakukan posisi on-the-top. Dia sekarang yang lebih mendominasi

“Sakura-senpai, kamu hebat”

“Keluarkan cairan semen putihmu, Naruto-kun.. Aku juga a-kan keluar, ahh”

~~~
“I-ini tidak mungkin..”

“Kamu dengar, itu adalah pacarmu.” Ucap Sasuke tegas. Dia kembali memakai celananya

“Darimana kamu dapat video ini, kapan?” Hinata ingin menangis kencang..

“Itachi-nii memberikannya padaku. Kemarin tidak sengaja dia mendengar percakapan aneh dari luar kamar mandi perempuan. Terlihat pasangan itu bercinta tanpa paksaan, ya kamu juga sudah lihat sendiri kan tadi apa yang dilakukan oleh pacar brengsekmu itu” Sasuke juga memakaikan celana dalam Hinata ke kakinya, meskipun Hinata sedikit menolak karena malu, tapi dia hanya bisa diam

“Dia merekam videonya untuk ditunjukkan pada ayahku supaya mereka diberi hukuman, eh takdir Tuhan tidak bisa diramal, ternyata dia adalah pria jalang yang disukai oleh wanitaku. Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh padanya"

Hinata menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Sasuke

“A-aku tadi sudah klimaks, kemungkinan spermaku masuk ke rahimmu” dengan gelagap rapper Sasuke berkata begitu

“Aku takut hamil, brengsek”

“Kalau begitu menikahlah denganku, meskipun kamu positif punya anak ataupun tidak, aku akan menanggungnya”

“Bolehkah aku menangis di bajumu?” Hinata belum menatap mata Sasuke langsung, dia benar-benar kecewa dikhinati pacarnya

“Boleh, besok kan libur. Seragamku juga banyak” Jawab Sasuke santai. Dalam benaknya dia merasa sudah berhasil mendapatkan Hinata

“Aku tidak mudah melupakan seseorang yang pernah aku cintai―”

“Bukan masalah besar menjadi pelampiasanmu”

“Butuh bertahun-tahun..”

“Aku akan menunggu”

Hinata kehabisan kata. Dia berdiri, menuju keluar ruangan

“Mau kemana? Tubuhmu pasti masih lemah” Sasuke khawatir, dia ingin menemani kemanapun Hinata melangkah

“Ikutlah denganku, aku membutuhkanmu” melangkah tertatih, terasa perih, Hinata tidak peduli pada keadaan tubuhnya

“Aku gendong saja, ya”

“Tidak usah” Hinata mengambil ponselnya. Memanggil nomor kontak yang ada diurutan pertama buku telepon.

Tut― Tut― Tut― Cklek

‘Hinata-chan, kamu dimana sekarang? Aku sudah menunggumumu sejak ta―’

“Urusee! Diamlah di tempat, aku akan menuju kesana secepatnya” Tut tut tut.. Sambungan telepon terputus

Sasuke menatap intens pada Hinata, dia semakin ingin memeluknya namun sekarang bukan waktu yang tepat. Hinata sangat mengamuk

“Hinata-chan..” Kalimatnya terhenti saat melihat Hinata datang bersama seseorang yang luarrr biasaa tampan, tingkat pe-de Naruto menurun

“Naruto, aku tidak akan basa-basi. Kamu kemarin melakukan seks dengan wanita lain, iya kan? Aku tidak suka dikhianati seperti ini, apapun alasanmu aku ingin kita berhenti disini. Tahun depan setelah lulus sekolah aku akan menikah dengan Sasuke. Titik” Tidak seperti biasanya Hinata berkata lebar panjang, bukan sifatnya. Kecuali jika dia benar-benar marah

“Tentang itu aku hanya..”

“Dia bilang dia akan menikah denganku, kamu lebih baik merelakan Hinata padaku. Aku akan mengurusnya sebaik mungkin, tidak sepertimu yang mau saja dibayar seperti gigolo” Sasuke merangkul lengan Hinata

“Apa maksudmu gigolo? Aku mencintainya dan dia juga merasakan hal yang sama padaku!” Suara seorang wanita muncul, memasuki argument tanpa ijin

“Aku memintamu bertemu untuk mengobrolkan masalah ini. Besok, aku dan Sakura akan bertunangan”

‘Apa? Kamu sungguh brengsek, Naruto! Aku benci kamu, selamanya!’ Geram Hinata dalam hati

“Hey, anak bodoh. Kamu pengecut sekali, sudah melakukan hal itu sekarang hanya selang beberapa hari sudah mau tunangan. Gila!” Sasuke terbawa emosi, Hinata tersayat beberapa kali oleh ucapan Naruto

“Aku minta maaf, mungkin ini yang terbaik untuk kita..” Naruto mengambil lengan kecil Hinata

“..” Hinata melempar pegangan darinya “Sasuke, aku ingin pulang” Suara lirih Hinata meminta untuk segera pergi dari hadapan mantan pacarnya

“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah” Sasuke memberi tatapan death-glare yang sangat mematikan pada Naruto dan Sakura

“Tenang Naruto, aku ada disisimu..” Sakura mengelus dada Naruto.

“Gomen―”

THE END